Radang Payudara (Mastitis)

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

48

Mastitis merupakan suatu proses peradangan pada satu atau lebih segmen payudara yang mungkin disertai infeksi atau tanpa infeksi. Mastitis merupakan masalah yang sering dijumpai pada ibu menyusui. Diperkirakan sekitar 3-20% ibu menyusui dapat mengalami mastitis. Sebagian besar mastitis terjadi dalam 6 minggu pertama setelah bayi lahir (paling sering pada minggu ke-2 dan ke-3), meskipun dapat juga terjadi sepanjang masa menyusui bahkan pada wanita yang sementara tidak menyusui.

Karena dapat menurunkan produksi ASI dan menjadi alasan ibu untuk berhenti menyusui serta berpotensi meningkatkan transmisi vertikal pada beberapa penyakit (terutama AIDS), penting bagi Ibu untuk mengenali gejala mastitis dan mengetahui faktor risiko yang bisa menyebabkan serta cara pencegahannya.

Gejala mastitis adalah sebagai berikut:

  • Demam dengan suhu lebih dari 38,5oc
  • Menggigil
  • Nyeri atau ngilu seluruh tubuh
  • Payudara menjadi kemerahan, tegang, panas, bengkak, dan terasa sangat nyeri.
  • Peningkatan kadar natrium dalam ASI yang membuat bayi menolak menyusu karena ASI terasa asin
  • Timbul garis-garis merah ke arah ketiak.

Faktor risiko terjadinya mastitis antara lain:

  1. Terdapat riwayat mastitis pada anak sebelumnya.
  2. Putting lecet. Puting lecet menyebabkan timbulnya rasa nyeri yang membuat kebanyakan ibu menghindari pengosongan payudara secara sempurna.
  3. Frekuensi menyusui yang jarang atau waktu menyusui yang pendek.
    Biasanya mulai terjadi pada malam hari saat ibu tidak memberikan bayinya minum sepanjang malam atau pada ibu yang menyusui dengan tergesa-gesa.
  4. Pengosongan payudara yang tidak sempurna
  5. Pelekatan bayi pada payudara yang kurang baik. Bayi yang hanya mengisap puting (tidak termasuk areola) menyebabkan puting terhimpit diantara gusi atau bibir sehingga aliran ASI tidak sempurna.
  6. Ibu atau bayi sakit.
  7. Frenulum pendek.
  8. Produksi ASI yang terlalu banyak.
  9. Berhenti menyusu secara cepat/ mendadak, misalnya saat bepergian.
  10. Penekanan payudara misalnya oleh bra yang terlalu ketat atau sabuk pengaman pada mobil.
  11. Sumbatan pada saluran atau muara saluran oleh gumpalan ASI, jamur,serpihan kulit, dan lain-lain.
  12. Penggunaan krim pada puting.
  13. Ibu stres atau kelelahan.
  14. Ibu malnutrisi. Hal ini berhubungan dengan daya tahan tubuh yang rendah.

Pencegahan terhadap kejadian mastitis dapat dilakukan dengan memperhatikan faktor risiko di atas. Bila payudara penuh dan bengkak, bayi biasanya menjadi sulit melekat dengan baik, karena permukaan payudara menjadi sangat tegang. Ibu dibantu untuk mengeluarkan sebagian ASI setiap 3 – 4 jam dengan cara memerah dengan tangan atau pompa ASI yang direkomendasikan. Sebelum memerah ASI pijatan di leher dan punggung dapat merangsang pengeluaran hormon oksitosin yang menyebabkan ASI mengalir dan rasa nyeri berkurang. ASI hasil perahan dapat diminumkan ke bayi dengan menggunakan cangkir atau sendok.

Pengosongan yang tidak sempurna atau tertekannya saluran akibat pakaian yang ketat dapat menyebabkan ASI terbendung. Ibu dianjurkan untuk segera memeriksa payudaranya bila teraba benjolan, terasa nyeri dan kemerahan. Selain itu ibu juga perlu beristirahat, meningkatkan frekuensi menyusui terutama pada sisi payudara yang bermasalah serta melakukan pijatan dan kompres hangat di daerah benjolan.

Pada kasus puting lecet dapat diterapi dengan bahan penyembuh luka seperti lanolin, yang segera meresap ke jaringan sebelum bayi menyusu. Pada tahap awal pengobatan dapat dilakukan dengan mengoleskan ASI akhir (hind milk) setelah menyusui pada puting dan areola dan dibiarkan mengering.

Ibu menyusui dianjurkan cukup beristirahat dan juga mengingatkan anggota keluarga lainnya bahwa seorang ibu menyusui membutuhkan lebih banyak bantuan. Terakhir, Ibu harus senantiasa memperhatikan kebersihan tangannya karena Staphylococcus aureus adalah kuman yang paling banyak terdapat di rumah sakit maupun masyarakat yang sering menyebabkan mastitis. Alat pompa ASI juga biasanya menjadi sumber kontaminasi sehingga perlu dicuci dengan sabun dan air panas setelah digunakan. (EM/STE)

Sumber:

http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/mastitis-pencegahan-dan-penanganan


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store