RISIKO MENGONSUMSI OBAT BEBAS

31

(Penulis)
dr.Sitty Yosephus

Obat
tanpa resep dokter atau obat bebas dapat dibeli secara bebas di toko obat. Obat
ini aman dan efektif saat Anda mengikuti petunjuk yang ada pada label dan
arahan dari apoteker. Umumnya obat ini dikonsumsi untuk menangani gejala ringan
yang dianggap tidak membutuhkan konsultasi kepada dokter, seperti untuk
mengurangi rasa sakit, nyeri, gatal, sakit gigi,
dan sakit kepala.

Sebagian orang sering menggunakan
obat-obatan yang dijual bebas tanpa mencari tahu penyebab penyakitnya dengan
memeriksakan diri ke dokter. Padahal dengan mengonsumsi obat-obatan jenis ini
dapat membahayakan kesehatan, terutama jika tidak dikonsumsi sesuai takaran
yang tepat atau dikonsumsi dalam jangka panjang.

Berikut adalah beberapa risiko dan
kontraindikasi dari mengonsumsi obat bebas, di antaranya:

  • Obat yang cukup umum seperti paracetamol digunakan untuk pereda nyeri dan
    demam. Terlalu banyak mengonsumsi obat ini dapat menyebabkan keracunan dan
    kerusakan organ hati.
  • Menggabungkan obat paracetamol dan dekongestan phenylephrine (PE) dapat menyebabkan efek samping
    yang serius, yakni meningkatkan kadar PE di dalam darah empat kali lipat.
    Peningkatan kadar PE dapat menyebabkan pusing, insomnia, dan tingginya tekanan
    darah.
  • Aspirin yang dijual bebas di pasaran juga
    dapat berinteraksi buruk dengan beberapa macam obat, seperti obat pengencer
    darah, antibiotik, dan kelompok obat antiinflamasi non steroid (OAINS).
  • Obat antihistamin yang dikonsumsi terlalu banyak juga
    dapat menyebabkan kejang dan timbulnya kelainan pada detak jantung Anda.
  • Bahaya obat bebas lainnya yaitu dapat menyebabkan reaksi
    efek samping interaksi obat atau makanan dan sangat berbahaya, terlebih jika
    dosis yang diminum berlebihan dari anjuran yang tertera di label.
  • Penderita tekanan darah tinggi perlu menghindari konsumsi
    dekongestan dan obat yang tinggi kandungan sodium.
  • Tidak semua obat tepat diberikan untuk balita, seperti ibuprofen yang tidak boleh diberikan pada
    bayi yang berusia kurang dari enam bulan.
  • Tubuh lansia memroses obat dengan cara berbeda dibandingkan
    kelompok orang yang lebih muda. Selain itu, efek samping dan interaksi obat
    kerap berisiko terjadi karena lansia kerap mengonsumsi beberapa obat-obatan
    lain di saat bersamaan.
  • Obat dalam dosis aman yang dikonsumsi ibu hamil bisa jadi
    berbahaya bagi janin. Misalnya, konsumsi aspirin dapat meningkatkan risiko keguguran,  gangguan pada pembekuan
    darah, menghambat pertumbuhan janin, dan memperpanjang proses melahirkan.
  • Obat apapun termasuk obat bebas tidak dapat dikonsumsi jika
    seseorang memiliki alergi terhadap obat tersebut.

Akibat Overdosis
Penggunaan Obat Bebas

Bahaya obat bebas bisa muncul jika
dikonsumsi melebihi takaran yang disarankan, dan dapat membuat berisiko
mengalami gejala atau bahkan penyakit tertentu. Jenis efek samping yang
diakibatkan dapat berbeda sesuai dengan jenis obat yang dikonsumsi. Berikut ini
adalah beberapa risiko penyakit akibat konsumsi obat berlebihan:

  • Hepatotoksik, yaitu kerusakan hati akibat bahan kimia yang
    terkandung dalam obat-obatan.
  • Iritasi sistem pencernaan sehingga bisa sakit perut, mual,
    muntah-muntah atau diare.
  • Perubahan suhu tubuh, tekanan darah, denyut nadi, dan detak
    jantung.
  • Nyeri pada dada dan sesak napas akibat gangguan pada paru
    dan jantung.
  • Kebingungan.
  • Kulit menjadi panas dan kering, atau sebaliknya, dingin dan
    lembap.
  • Muntah darah.
  • Muncul darah pada tinja saat buang air besar.
  • Koma.
  • Sesak napas.
  • Meninggal dunia.

Panduan Mengonsumsi Obat Bebas

Tidak sedikit orang meninggal karena
mengonsumsi obat-obatan bebas seperti paracetamol dalam dosis berlebihan.
Beberapa hal ini perlu diperhatikan sebelum mengonsumsi obat bebas, yaitu:

  • Selalu baca label

Baca
dan ikuti informasi dosis pada label petunjuk penggunaan tiap kali akan
mengonsumsi obat. Dosis tersebut sudah disesuaikan untuk mendatangkan manfaat
dengan efek samping yang minimal. Jika melebihi dosis, obat malah akan membawa
dampak buruk pada tubuh.

  • Sesuai alat takar

Kenali
perbedaan dan patuhi takaran yang tertera seperti 1 sendok makan, 1 sendok teh,
satu tablet/pil, atau milimeter. Satu sendok teh setara dengan 5 ml. Beberapa
obat menyertakan alat takar dalam kemasan obat (sendok, alat tetes, atau
cangkir kecil). Hindari menebak-nebak dengan menggunakan takaran lain.

  • Jenis obat dan dosis untuk kelompok usia yang berbeda

Beberapa
produsen obat menyediakan beragam varian dengan merek sama, contohnya obat
batuk X untuk dewasa dan obat batuk X untuk anak. Tiap varian diperuntukkan
bagi usia yang berbeda. Masing-masing mengandung formula yang berbeda. Pada
jenis yang berbeda, dosis yang tertera di petunjuk pemakaian biasanya dibedakan
untuk kelompok-kelompok usia tersebut, yaitu dewasa, anak, dan balita. Konsumsi
atau berikan obat sesuai takaran yang tepat. Misalnya, dosis paracetamol untuk
dewasa adalah 500 miligram hingga 1 gram tiap 4 hingga 6 jam, dengan maksimal
konsumsi 4 gram per 24 jam. Sedangkan pada anak-anak usia 4 sampai 6 tahun,
dosis maksimal adalah 4 kali 240 miligram per 24 jam. Hindari memberikan obat
bebas kepada balita berusia di bawah setahun tanpa menanyakan kepada dokter
anak.

Sebelum mengonsumsi setiap obat
bebas, cari tahu merek dari obat bebas tersebut, apa kegunaannya, bacalah label
dan petunjuk penggunaan obat, bahan aktif yang terkandung pada obat tersebut,
dan peringatan dari penggunaan obat bebas yang akan dikonsumsi. Penggunaan obat
bebas pada ibu hamil perlu dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu. (SY)

Sumber :

www.alodokter.com