(Sulit) Berdamai Dengan Kecoa

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

120

Ogni sacarrafone è bello a mamma sua“, atau dalam bahasa Indonesia, “Setiap kecoak itu cantik bagi ibunya”. Pepatah dari Eropa tersebut, meski indah, tampaknya belum dapat menghilangkan rasa jijik manusia terhadap binatang ini.

Kecoak. Mendengar namanya saja, sebagian dari kita sudah merinding, bersiap-siap untuk lari menjauh atau mencari-cari untuk dibasmi. Artikel berikut ini hadir untuk memperkuat alasan mengapa kita sebaiknya menjauhi binatang ini.

Pomés, A. et al., (2014) mengatakan kecoak adalah hewan yang sukses dalam adaptasi serta beredar luas di dunia. Kecoak adalah hewan yang berhasil bertahan hidup di atas bumi sejak 300 juta tahun yang lalu dan hidup membersamai dinosaurus. Kecoak sendiri sangat mudah beradaptasi dengan berbagai habitatnya, mempermudah spesiesnya untuk bertahan hidup.

Spesies kecoak hingga saat ini ada sekitar 4.000 spesies, dengan habitat wilayah tropis menjadi tempat paling favorit (Pomés, A. et al., 2014). Di Indonesia, spesies yang seringkali kita temui adalah Periplaneta americana yang sering kita sebut kecoak amerika, Blatella germanica atau kecoak jerman, dan Periplaneta australasiae atau kecoak australia.

Terlepas dari keunikan nama-namanya dan asal-usul nenek moyangnya, kecoak biasa hidup di habitat sekitar kita secara umum mulai dari tempat sampah, toilet, hingga dapur masak rumah kita (Moges, F., et al., 2016). Binatang ini mengkonsumsi sampah, makanan busuk, bahkan kotoran yang dikeluarkan oleh kecoak lainnya. Kebiasaan hidupnya di tempat yang kotor , kebiasaan mengkonsumsi benda-benda yang kotor, serta kemudahan untuk berpindah tempat, agaknya cukup untuk menjadi alasan bahwa hewan ini mempunyai kemampuan menyebarkan penyakit infeksi yang tinggi.

Moges, F., et al (2016) menyatakan bahwa oleh karena mobilitas hewan ini tinggi, mereka dapat dengan sangat mudah mengkontaminasi makanan manusia. Hewan ini juga adalah hewan nokturnal, artinya dapat aktif pada malam hari, menjadikannya mudah menjadi pembawa penyakit yang ideal.

Berbagai kuman, virus, parasit serta fungi dapat dengan mudah diangkut di dalam kutikula kecoak atau dikonsumsi oleh kecoak dan pada suatu saat dikeluarkan lewat anus atau dimuntahkan kembali. Luasnya penyebaran hewan ini menyebabkan peneliti sulit untuk meneliti penyebaran penyakit tertentu (Pomés, A. et al., 2014). Meski begitu, para peneliti telah mencoba untuk mengidentifikasi jenis-jenis kuman yang bersarang di tubuh hewan ini.

Moges, F., et al (2016) mengumpulkan hasil dari berbagai penelitian mengenai profil kuman yang ada pada kecoak. Spesies kuman yang umum ada adalah Staphylococcus aureus, Streptococcus spp, Enterobacterariaceae, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella spp., Shigella spp , Campylobacter spp., Klebsiella pneumonia. Penyakit yang umum terjadi adalah food-born disease, atau penyakit akibat makanan yang terkontaminasi oleh bakteri atau hewan patogen lainnya. Tidak jarang pula bakteri yang beredar di tubuh kecoak adalah bakteri yang mempunyai daya resistensi terhadap antibiotik, sehingga obat antibiotik biasa tidak dapat mengatasi penyakitnya.

Sekian artikel ini dibuat, ingatlah selalu untuk menjauhkan kecoak dari makanan/minuman anda dan keluarga. Selalulah mencuci tangan sebelum makan, dan bila terpaksa makan di luar, pilihlah tempat makan yang higienis. (HIL)

Referensi:

Moges, F., et al. (2016). Cockroaches as a source of high bacterial pathogens with multidrug resistant strains in Gondar Town, Ethiopia. BioMed research international, 2016.

Pomés, A., & Arruda, L. K. (2014). Investigating cockroach allergens: aiming to improve diagnosis and treatment of cockroach allergic patients. Methods, 66(1), 75-85.


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store