TANAMAN OBAT KELUARGA

89

(Penulis) dr. Nurhija

Tanaman obat keluarga atau biasa disingkat TOGA merupakan tanaman yang bisa dibudidayakan di pekarangan rumah dan mempunyai manfaat sebagai obat-obatan herbal tradisional. Penggunaan tanaman sebagai pengobatan herbal sudah dipraktekkan sejak jaman Mesir kuno sekitar 2500 tahun Sebelum Masehi.

Indonesia memiliki 30.000 jenis tanaman dari total 40.000 jenis tanaman yang ada di dunia, dan 940 jenis diantaranya merupakan tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk obat-obatan tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Hasil beberapa penelitian membuktikan bahwa obat (ramuan) tradisional yang di ramu dari tanaman obat lebih mudah dicerna oleh tubuh dan tidak terlalu menyebabkan efek samping. Sudah banyak negara maju yang mulai memproduksi obat-obatan dari tanaman herbal.

Pemanfaatan Tanaman Obat (TOGA)

Pada bagian tanaman seperti yang tercantum di bawah ini dapat dimanfaatkan sebagai obat. Bagian tanaman terdiri dari bagian daun, kulit batang, buah, biji, bahkan pada bagian akarnya.

  1. Daun dewa  (Gynura segetum) untuk mengobati muntah darah dan payudara bengkak
  2. Seledri (Apium graveolens L.) untuk mengobati tekanan darah tinggi
  3. Belimbing  untuk mengobati tekanan darah tinggi
  4. Kelor untuk mengobati panas dalam dan demam
  5. Daun bayam duri untuk mengobati kurang darah
  6. Kangkung (Ipomoea aquatica) untuk mengobati insomnia atau gangguan tidur
  7. Saga (Abrus precatorius) untuk mengobati batuk dan sariawan
  8. Pacar cina (Aglaiae ordorota Lour) dan kemuning (Murrayae paniculata Jack) untuk mengobati penyakit gonorrhoe (penyakit kelamin menular)
  9. Landep (Barleriae prionitis L.)    untuk mengobati rematik
  10. Miana (Coleus atropurpureus Bentham) untuk mengobati wasir
  11. Pepaya (Carica papaya L.) untuk mengobati demam dan diare
  12. Jintan (Trachyspermum roxburghianum syn. Carum roxburghianum) untuk mengobati batuk, mules, dan sariawan
  13. Pegagan (Cantella asiatica Urban) untuk mengobati sariawan dan bersifat mampu membasmi bakteri
  14. Blustru (Luffa cylindrice Roem), Kumis kucing (Orthosiphon stamineus Benth), dan Murbei (Morus indica Rumph) yang bersifat diuretik (memperbanyak produksi urin) untuk pengobatan hipertensi
  15. Sirih (Chavica betle L.) untuk mengobati batuk dan berfungsi sebagai antiseptika (membunuh mikroorganisme berbahaya), dan obat kumur
  16. Randu (Ceiba pentandra Gaerth) sebagai obat mencret dan kumur
  17. Salam (Eugenia polyantha Wight) yang bersifat pembasmi bakteri
  18. Jambu biji (Psidium guajava L.) mengobati mencret

Faktor peningkatan penggunaan tanaman obat

Kecenderungan meningkatnya penggunaan obat tradisional didasari oleh beberapa faktor, yaitu:

  • Pada umumnya, harga obat–obatan buatan pabrik yang sangat mahal, sehingga masyarakat mencari alternatif pengobatan yang lebih murah.
  • Efek samping yang ditimbulkan oleh obat tradisional sangat kecil dibandingkan dengan obat buatan pabrik.
  • Kandungan unsur kimia yang terkandung di dalam obat tradisional sebenarnya menjadi dasar pengobatan kedokteran modern. Artinya, pembuatan obat–obatan pabrik menggunakan rumus kimia yang telah disentetis dari kandungan bahan alami ramuan tradisional.

Perawatan tanaman obat

Tanaman yang dipelihara di pekarangan rumah tidak memerlukan perawatan khusus, baik sebagai bumbu dapur atau bahan obat. Perlakuan khusus dalam budi daya tanaman obat dilakukan dalam skala usaha, dengan tujuan untuk memperoleh kualitas dan kuantitas hasil yang optimum. Kegiatan pemupukan dan pengandalian hama penyakit tanaman perlu dilakukan. Kegiatan ini sangat erat hubungannya dengan penggunaan bahan kimiawi yang terkandung dalam pupuk atau pestisida. Pemakaian bahan kimiawi dapat mencemari lingkungan, baik tanah maupun air, dan yang paling berbahaya residu yang dihasilkan akan terakumulasi dalam produk tanaman yang dihasilkan. Untuk itu, perlu diperkenalkan sistem budi daya yang tidak tergantung pada bahan-bahan kimia. Sistem ini dikenal dengan istilah pertanian organik. Dalam budi daya tanaman obat dapat dimanfaatkan pupuk organik untuk menambah unsur hara mineral yang dibutuhkan tanaman. Pupuk organik yang digunakan di antaranya adalah pupuk kandang, bokhasi, kompos, humus, sampah dapur, dan serasah daun. Selain itu, sebagai bahan pengendali hama penyakit tanaman, dapat dimanfaatkan pestisida alami yang terdapat di sekitar rumah, seperti tanaman babadotan (Ageratum conyzoides), sirsak, lantana, dan daun tembakau. (NUR)

Referensi :

Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (Toga) untuk Kesehatan Keluarga, library.usu.ac.id. Diakses pada 24 Juli 2010.