TANAMAN OBAT KELUARGA

25

(Penulis) dr.
Nurhija

Tanaman obat keluarga atau biasa disingkat
TOGA merupakan tanaman yang bisa
dibudidayakan di pekarangan rumah dan mempunyai manfaat sebagai obat-obatan
herbal tradisional. Penggunaan
tanaman sebagai pengobatan herbal sudah dipraktekkan sejak jaman Mesir kuno
sekitar 2500 tahun Sebelum Masehi.

Indonesia memiliki 30.000 jenis tanaman
dari total 40.000 jenis tanaman yang ada di dunia, dan 940 jenis diantaranya
merupakan tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk obat-obatan tradisional dalam
kehidupan sehari-hari. Hasil
beberapa penelitian membuktikan bahwa obat (ramuan) tradisional yang di ramu
dari tanaman obat lebih mudah dicerna oleh tubuh dan tidak terlalu menyebabkan
efek samping. Sudah banyak negara maju yang mulai memproduksi obat-obatan dari
tanaman herbal.

Pemanfaatan
Tanaman Obat (TOGA)

Pada bagian tanaman seperti yang tercantum
di bawah ini dapat dimanfaatkan sebagai obat. Bagian tanaman terdiri dari
bagian daun, kulit batang, buah, biji, bahkan pada bagian akarnya.

  1. Daun
    dewa  (Gynura segetum) untuk mengobati muntah darah dan payudara
    bengkak
  2. Seledri
    (Apium graveolens L.) untuk mengobati tekanan darah tinggi
  3. Belimbing  untuk
    mengobati
    tekanan darah tinggi
  4. Kelor untuk mengobati panas dalam dan demam
  5. Daun
    bayam duri untuk mengobati
    kurang darah
  6. Kangkung
    (Ipomoea aquatica) untuk mengobati
    insomnia atau gangguan tidur
  7. Saga
    (Abrus precatorius) untuk mengobati batuk dan sariawan
  8. Pacar
    cina (Aglaiae ordorota Lour) dan kemuning (Murrayae paniculata Jack) untuk mengobati penyakit gonorrhoe
    (penyakit kelamin menular)
  9. Landep
    (Barleriae prionitis L.)    untuk
    mengobati
    rematik
  10. Miana
    (Coleus atropurpureus Bentham) untuk mengobati wasir
  11. Pepaya
    (Carica papaya L.) untuk mengobati demam dan diare
  12. Jintan
    (Trachyspermum roxburghianum syn. Carum
    roxburghianum
    ) untuk mengobati
    batuk, mules, dan sariawan
  13. Pegagan
    (Cantella asiatica Urban) untuk mengobati sariawan dan bersifat mampu
    membasmi bakteri
  14. Blustru
    (Luffa cylindrice Roem), Kumis kucing (Orthosiphon stamineus Benth), dan Murbei (Morus
    indica Rumph
    ) yang bersifat
    diuretik (memperbanyak produksi urin) untuk pengobatan hipertensi
  15. Sirih
    (Chavica betle L.) untuk mengobati batuk dan berfungsi sebagai antiseptika
    (membunuh mikroorganisme berbahaya), dan obat kumur
  16. Randu
    (Ceiba pentandra Gaerth) sebagai
    obat mencret dan kumur
  17. Salam
    (Eugenia polyantha Wight) yang bersifat pembasmi bakteri
  18. Jambu
    biji (Psidium guajava L.) mengobati mencret

Faktor
peningkatan penggunaan tanaman obat

Kecenderungan meningkatnya penggunaan obat
tradisional didasari oleh beberapa faktor, yaitu:

  • Pada umumnya, harga obat–obatan buatan
    pabrik yang sangat mahal, sehingga masyarakat mencari alternatif pengobatan
    yang lebih murah.
  • Efek samping yang ditimbulkan oleh obat
    tradisional sangat kecil dibandingkan dengan obat buatan pabrik.
  • Kandungan unsur kimia yang terkandung di
    dalam obat tradisional sebenarnya menjadi dasar pengobatan kedokteran modern.
    Artinya, pembuatan obat–obatan pabrik menggunakan rumus kimia yang telah
    disentetis dari kandungan bahan alami ramuan tradisional.

Perawatan
tanaman obat

Tanaman yang dipelihara di pekarangan
rumah tidak memerlukan perawatan khusus, baik sebagai bumbu dapur atau bahan
obat. Perlakuan khusus dalam budi daya tanaman obat dilakukan dalam skala
usaha, dengan tujuan untuk memperoleh kualitas dan kuantitas hasil yang
optimum. Kegiatan pemupukan dan pengandalian hama penyakit tanaman perlu
dilakukan. Kegiatan ini sangat erat hubungannya dengan penggunaan bahan kimiawi
yang terkandung dalam pupuk atau pestisida. Pemakaian bahan kimiawi dapat
mencemari lingkungan, baik tanah maupun air, dan yang paling berbahaya residu
yang dihasilkan akan terakumulasi dalam produk tanaman yang dihasilkan. Untuk
itu, perlu diperkenalkan sistem budi daya yang tidak tergantung pada
bahan-bahan kimia. Sistem ini dikenal dengan istilah pertanian organik. Dalam
budi daya tanaman obat dapat dimanfaatkan pupuk organik untuk menambah unsur
hara mineral yang dibutuhkan tanaman. Pupuk organik yang digunakan di antaranya
adalah pupuk kandang, bokhasi, kompos, humus, sampah dapur, dan serasah daun. Selain
itu, sebagai bahan pengendali hama penyakit tanaman, dapat dimanfaatkan
pestisida alami yang terdapat di sekitar rumah, seperti tanaman babadotan (Ageratum conyzoides), sirsak, lantana,
dan daun tembakau. (NUR)

Referensi :

Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (Toga)
untuk Kesehatan Keluarga, library.usu.ac.id. Diakses pada 24 Juli 2010.