Tips Menghadapi Kegagalan Anak Dalam Ujian

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

124

Dalam sistem pendidikan Indonesia, anak-anak berIQ tinggi tidak mendapatkan bimbingan yang semestinya. Mereka malah dieksklusifkan dan diberi target yang lebih tinggi dari anak-anak lain. Apresiasi yang mereka terima selalu terkait dengan angka-angka. Sisi psikologis tidak dijamah, padahal mereka sedang dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, yang tentu saja tidak bicara tentang besar badan saja. Anak-anak inilah, seperti dalam Dead Poet Society, yang sangat berbahaya jika gagal. Padahal gagal adalah unsur kehidupan juga, mungkin terjadi pada siapapun. Bagi yang bermental baja seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg memilih untuk keluar dari sistem pendidikan konvensional dan mencari jalan sendiri untuk sukses.

Sebagai ibu, ketika anak gagal tentu saja ada perasaan kecewa. Entah gagal di pertandingan, ranking kelas melorot, nilai UN tidak bagus, tidak diterima di sekolah yang diidamkan, tidak lolos SBMPTN dan sebagainya. Semua usaha, waktu, tenaga dan biaya yang dikeluarkan untuk mendukungnya tak mendapatkan hasil yang diharapkan. Tapi bayangkan jika berada di sisi di anak. Kecewa dengan dirinya sendiri, malu dengan teman-temannya dan takut pada orangtuanya. Pada anak yang biasa juara, rasa malu lebih mendalam lagi. Entahlah jika itu menjadi penyebab mahasiswa pandai yang nekad mengakhiri hidupnya beberapa waktu lalu karena mendapat IPK buruk.

Sebenarnya, anak-anak dengan nilai rata-rata juga tak kalah rentan. Keinginan untuk menjadi istimewa ada dalam diri kita semua sebagai manusia. Jika terus-menerus tak bisa bersinar, mereka akan merasa dirinya invisible, tak penting untuk ada maupun tak ada. Masa depan seperti apa yang akan mereka peroleh jika mereka sendiri merasa tak penting untuk ada?

Kegagalan bukan hanya terjadi dalam urusan akademik. Jika si anak sudah remaja, persoalannya lebih rumit lagi. Seorang sahabat dekat menasehati saya, “Ketika kamu melepas anak untuk mandiri, yang nomor satu kamu persiapkan bukanlah materi tapi mental. Jangan kebalik ya.”

Berikut adalah sejumlah tips untuk orangtua yang anaknya menghadapi kegagalan ujian.

  1. Tanamkan perasaan selalu bahagia dan tetap tersenyum menghadapi kegagalan.
  2. Ingat kegagalan bukan berati fatal tapi bermakna sukses yang tertunda.
  3. Berjiwa besar bahwa menikmati kegagalan ujian meski sudah belajar, mempersiapkan diri dan berjuang keras itu indah dan menjadi pendewasaan dan evaluasi diri.
  4. Selalu berpikir positif dengan menanamkan bahwa gagal ujian bukan karena malas belajar tetapi ada faktor lain.
  5. Biasakan diri menerapkan sikap ketika menuai sukses bukan sesuatu yang istimewa dan gagalpun soal biasa.
  6. Lebih mempersiapkan diri untuk mengulang untuk menempuh ujian berikutnya.
  7. Tidak menyalahkan orang tua, keluarga, lingkungan, guru dan sekolah.

Menjadi orang tua, terutama ibu, adalah sekolah seumur hidup. Tidak mudah, karena akan ada ujian-ujian. Pendapat pakar seringkali berdasarkan penelitian secara umum, belum tentu tepat untuk si anak. Keyakinan ortu sendiri juga belum tentu tepat karena banyak hal-hal subyektif. Check and balance terus menerus harus dilakukan sehingga jika ortu keliru dalam membimbing si anak, masih banyak peluang untuk memperbaiki. (EDA)

Sumber :


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store