VITAMIN A, CEGAH RABUN SENJA PADA ANAK

16

Vitamin A adalah vitamin yang larut dalam lemak dan berguna untuk mendukung penglihatan normal, sistem kekebalan tubuh, dan sistem reproduksi. Vitamin A merangsang produksi dan aktivitas sel-sel darah putih, berperan dalam remodeling tulang (perbaikan tulang yang rusak), menjaga kesehatan endotel  (sel-sel yang menyusun lapisan dalam untuk melindungi organ), dan mengatur pertumbuhan dan pembelahan sel yang diperlukan dalam sistem reproduksi. Vitamin A juga membantu jantung, paru-paru, ginjal, dan organ-organ lain bekerja dengan baik.

Vitamin A dalam makanan terdiri dari 2 bentuk, yaitu preformed vitamin A (retinol, retinyl esters), dan provitamin A karotenoid seperti beta-karoten yang kemudian akan diubah menjadi retinol. Preformed vitamin A berasal dari produk hewani dan suplemen vitamin. Karotenoid ditemukan secara alami dalam makanan nabati. Ada jenis karotenoid lain yang ditemukan dalam makanan yang tidak diubah menjadi vitamin A tetapi memiliki sifat yang meningkatkan kesehatan; contohnya lycopene, lutein, dan zeaxanthin.

Pada bayi dan anak, vitamin A penting untuk mendukung pertumbuhan yang cepat dan untuk membantu melawan infeksi. Asupan vitamin A yang tidak memadai dapat menyebabkan defisiensi vitamin A yang berakibat pada gangguan penglihatan dalam bentuk rabun senja (Xeroftalmia), selain itu juga dapat meningkatkan risiko penyakit dan kematian akibat infeksi, termasuk campak dan diare. Vitamin A aman diberikan kepada anak-anak dalam dosis besar, karena dapat disimpan oleh tubuh dan dilepaskan dari waktu ke waktu sesuai kebutuhan.

Kekurangan vitamin A dialami oleh sekitar 190 juta anak usia prasekolah, sebagian besar terdapat di Asia Tenggara dan Afrika. Selain itu terdapat prevalensi rabun senja ≥1% pada balita usia 2-5 tahun dan prevalensi kekurangan vitamin A ≥20% pada usia 6 bulan-5 tahun. Untuk mengatasi permasalahan ini, pemberian vitamin A dosis tinggi direkomendasikan untuk diberikan pada balita dalam bentuk suplemen dan merupakan program wajib Posyandu dan Puskesmas di samping imunisasi.

Vitamin A ditemukan secara alami pada makanan atau ditambahkan ke beberapa makanan (difortifikasi), seperti susu dan sereal.  Makanan yang kaya vitamin A adalah hati sapi (tetapi makanan ini juga tinggi kolesterol, jadi batasi jumlah konsumsinya); beberapa jenis ikan laut; sayuran hijau dan sayuran berwarna oranye dan kuning, seperti brokoli, wortel, dan labu; serta buah-buahan, seperti melon, aprikot, dan mangga. Perlu diingat bahwa konsumsi vitamin A yang terlalu banyak tidak disarankan untuk ibu hamil, karena dapat menyebabkan cacat pada janin yang dikandung. (BEL)

Sumber:

  1. World Health Organization. 2019. Vitamin A Supplementation in Infants and Children 6–59 Months of Age. Available at: https://www.who.int/elena/titles/vitamina_children/en/
  2. The President and Fellows of Harvard College. The Nutrition Source – Vitamin A. Available at: https://www.hsph.harvard.edu/nutritionsource/vitamin-a/
  3. Paxton, G. & Magrath, E. 2018. Vitamin A. Available at: https://www.rch.org.au/immigranthealth/clinical/Vitamin_A/
  4. National Institutes of Health. 2019. Vitamin A – Fact Sheet for Consumers. Available at: https://ods.od.nih.gov/factsheets/VitaminA-Consumer/