Wajah Perot, Stroke atau Bell’s Palsy?

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

651

Pernah melihat orang di sekitar yang tiba-tiba mengalami lumpuh pada sebelah wajahnya? Tanpa pikir panjang biasanya kita selalu mengira orang tersebut terserang stroke, padahal fungsi gerak lainnya masih normal. Jadi, apakah ada penyebab wajah perot yang lain? YA! Mungkin saja orang tersebut terserang Bell’s palsy. Bell’s palsy kelumpuhan wajah akibat paralisis dari nervus fasial perifer (kelumpuhan saraf diwajah) yang terjadi secara akut (cepat) dan penyebabnya tidak diketahui (idiopatik) di luar sistem saraf pusat (diluar otak dan saraf ditulang belakang) tanpa disertai adanya penyakit neurologis (saraf) lainnya. Penyakit ini menyebabkan kelumpuhan otot-otot salah satu sisi wajah, sehingga wajah menjadi asimetris, karena salah satu sisi wajah tampak melorot/mencong. Hanya salah satu sisi wajah penderita saja yang dapat tersenyum, dan selain itu, hanya satu mata saja yang dapat menutup dengan sempurna. Orang-orang tua dulu menyebutnya sebagai penyakit akibat kena angin malam atau karena habis bertabrakan dengan makhluk halus. Bell’s palsy berbeda dengan stroke walau gejala kelumpuhannya mirip.

Penyebab dari Bell’s Palsy belum diketahui secara pasti, namun beberapa sumber menyebutkan bahwa penyebab Bell’s Palsy adalah proses peradangan saraf yang mengontrol otot-otot salah satu sisi wajah. Ada pula yang mengatakan bahwa kerusakan saraf ini merupakan akibat dari infeksi virus. Beberapa hal yang diduga sebagai faktor pencetus timbulnya Bell’s palsy adalah:

  1. Virus Herpes Simpleks

Diduga virus ini sudah menyerang sejak anak-anak. Tetapi bisa juga menyebar lewat penggunaan handuk atau peralatan secara bersama dengan orang lain.

  1. Kongenital (bawaan lahir)

Hal ini bisa disebabkan oleh karena sindroma moebius atau karena trauma lahir (seperti perdarahan didalam kepala atau patah tulang tengkorak).

  1. Riwayat terpapar udara dingin secara terus-menerus

Gejala Bell’s palsy biasanya berawal dengan kehilangan sensasi rasa pada lidah. Lidah terasa seperti ada yang menyelimuti. Perasaan nyeri, pegal, linu dan rasa tidak enak pada telinga atau sekitarnya sering merupakan gejala awal yang segera diikuti oleh gejala kelumpuhan otot wajah berupa:

  1. Terjadi secara tiba-tiba, berupa kelumpuhan ringan sampai total pada salah satu sisi wajah, menyebabkan pasien sulit tersenyum atau menutup salah satu kelopak mata
  2. Wajah melorot menjadikan wajah sulit berekspresi
  3. Penurunan jumlah air mata dan liur yang diproduksi pada sisi yang terkena
  4. Penurunan kemampuan indera pengecap pada sisi yang lumpuh
  5. Dapat terjadi rasa nyeri di sekitar rahang atau di belakang telinga pada salah satu sisi wajah yang terpengaruh, kadang juga timbul nyeri kepala

Pada kebanyakan orang, kelumpuhan saraf tersebut bersifat sementara, yakni selama beberapa hari hingga beberapa minggu, serta dapat kembali pulih setelah kurang lebih 6 bulan. Walaupun demikian, ada juga beberapa kasus dimana kelumpuhan saraf wajah tersebut terjadi secara permanen seumur hidup. Diperlukan istirahat dan makanan yang bergizi seimbang untuk memulihkan daya tahan tubuh terutama bila berkaitan dengan virus. Pengobatan biasanya berupa pemberian obat-obatan oleh dokter, fisioterapi, hingga pembedahan bila gejala tidak membaik dalam jangka waktu lama. (BR/SA/CM)

DAFTAR PUSTAKA

  1. Aliah, Amirudin; Kuswara,F.F; Limoa, R.Arifin; Wuysang,Gerrad. 2005. Kapita Selekta Neurologi. Jogjakarta: Gajah Mada University Press
  2. Mardjono dan Sidharta. 2008. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat.
  3. Berg T. 2009. Medical Treatment and Grading of Bell’s Palsy. USU Institutional Repository. Universitas Sumatera Utara.
  4. Djamil Y, A Basjiruddin. 2009. Paralisis Bell. Dalam Harsono. Editor Kapita Selekta Neurologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta: Hal 297-300

Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store