Waspada, Konstipasi Pada Anak Dapat Menyebabkan Trauma!

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

199

Ayah dan Bunda, tahukah Anda bahwa konstipasi dapat menyebabkan trauma pada anak-anak? Tidak jarang, konstipasi ini menyebabkan anak harus dioperasi untuk mengeluarkan feses yang terlanjur mengeras. Menakutkan bukan? Mari simak artikel berikut untuk mencegah konstipasi dan trauma akibat konstipasi pada anak Ayah dan Bunda!

Saat anak memasuki usia 1 tahun, Ayah dan Bunda pasti sedang semangat-semangatnya mengajarkan anak tentang BAB dan BAK yang benar, atau biasa dikenal sebagai toilet trainig. Biasanya Ayah dan Bunda lebih sering terfokus pada pelatihan BAK agar si kecil dapat mengatakan kapan ia ingin pipis, mencegah si kecil mengompol di sembarang tempat, dan melepas penggunaan popok. Padahal, pada toilet training, pelatihan mengenai BAB juga penting untuk dilakukan dan diperhatikan, agar anak tidak konstipasi atau BAB di celana. Yang lebih penting lagi adalah melatih BAB dengan benar agar anak tidak takut dan tidak malu untuk BAB.

Saat toilet training, Ayah dan Bunda dapat mengenalkan kebiasaan BAB setiap pagi hari. Awali dengan membiasakan si kecil menunggu di kloset, seolah akan BAB, agar meransang keinginan BAB dan membiasakannya. Hal ini dilakukan agar si kecil terbiasa BAB rutin, agar BABnya tidak keras. Selain itu, jelaskan pada si kecil bahwa BAB adalah hal yang normal, semua orang mengalaminya, sehingga si kecil tidak perlu menahan, takut, ataupun malu apabila merasa perutnya sakit dan ingin BAB. Apabila saat BAB, si kecil merasa kesakitan karena BABnya keras, Ayah dan Bunda tidak perlu memaksakan si kecil untuk BAB saat itu juga, karena BAB yang keras dapat melukai dubur si kecil, menyebabkan nyeri bahkan setelah BAB, dan menyebabkannya takut BAB di kemudian hari. Ayah dan Bunda dapat memberikan obat pelunak BAB melalui dubur yang dijual bebas di apotek. Apabila ragu, Ayah dan Bunda dapat berkonsultasi dengan dokter mengenai penggunaan obat pelunak BAB melalui dubur ini.

Apabila si kecil pernah mengalami BAB keras, dikemudian hari Ayah dan Bunda harus memberikan motivasi dan meyakinkan si kecil agar si kecil tidak takut BAB lagi. Ayah dan Bunda juga dapat menggunakan obat pelunak BAB untuk sementara waktu, hingga luka di dubur si kecil sembuh, sehingga si kecil tidak lagi takut untuk BAB. Hal ini penting untuk dilakukan, karena saat si kecil takut untuk BAB maka si kecil cenderung menahan dan menyembunyikan keinginannya untuk BAB. Semakin lama, semakin menumpuk pula kotorannya, semakin keras pula BAB si kecil nantinya, sehingga menyebabkan lingkaran setan konstipasi yang tidak ada habisnya.

Selain memperhatikan toilet training si kecil, Ayah dan Bunda juga perlu memperhatikan asupan serat si kecil. Sudah menjadi masalah yang tidak asing lagi, apabila si kecil tidak suka makan sayur. Padahal sayur merupakan serat yang baik untuk menjaga agar BAB tidak terlalu keras. Ayah dan Bunda dapat mencoba berbagai macam olahan sayuran, agar si kecil lebih bersemangat mengonsumsi sayuran. Misalnya dengan membuat kripik sayuran, mengolahnya menjadi nugget sayuran, dan mencampurkannya dalam olahan daging hingga kue. Ayah dan Bunda juga dapat melibatkan si kecil dalam proses memasak dan menyajikan sayuran, agar si kecil lebih bersemangat memakan hasil masakannya sendiri. Apabila si kecil tetap tidak mau mengonsumsi sayuran, Ayah dan Bunda dapat menggantikan peran sayur ini dengan buah-buah yang memiliki rasa manis yang lebih digemari si kecil. Pilih buah-buahan dengan kandungan serat dan air yang tinggi dan sajikan sebagai pembuka atau camilan si kecil, sehingga kebutuhan serat si kecil tetap terpenuhi dan BAB si kecil tidak keras.

Tidak ketinggalan juga, pastikan asupan cairan si kecil cukup, sehingga tubuh tidak dehidrasi. Tubuh yang tidak dehidrasi akan menjaga BAB tidak terlalu keras, karena penyerapan cairan dari proses pengolahan makanan dalam tubuh, tidak dilakukan secara berlebihan. Ayah dan Ibu tidak harus memaksakan si kecil minum 8 gelas air mineral dalam sehari, karena Ayah dan Ibu dapat memenuhi asupan cairan si kecil dari susu, makanan berkuah, ataupun olahan minuman lainnya.

Ternyata menjaga agar anak tidak mengalami konstipasi dan trauma karena konstipasi tidaklah sulit, bukan? Selamat mencoba menerapkannya, Ayah dan Bunda! (STE)

Sumber:

WHO.2009.Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit: Pedoman bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota.Jakarta:WHO Indonesia


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store