Waspadai difteri; pastikan vaksinasi!

#PribadiRahasia Konsultasi Dokter Lewat Aplikasi

164

Difteri merupakan penyakit yang harus selalu diwaspadai oleh masyarakat Indonesia. Meskipun sempat mengalami penurunan angka kejadian dalam beberapa tahun terakhir, namun pada akhir tahun 2017 Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri terjadi di berbagai provinsi di Indonesia. Difteri menelan nyawa 13 orang, dengan jumlah kasus tercatat 123 kasus di Jawa Barat. Sedangkan di Provinsi Banten didapatkan 69 kasus dengan korban meninggal sebanyak 9 kematian. KLB ini menyebabkan Dinas Kesehatan Republik Indonesia harus melakukan ORI (Outbreak Response Immunization) di beberapa provinsi. Jawa Barat, DKI Jakarta, dan banten merupakan tiga provinsi tempat dilakukan ORI. ORI adalah sebuah solusi untuk mengatasi sebuah outbreak yaitu dengan dilakukannya imunisasi pada tempat-tempat yang terkonsentrasi penderita outbreak.

Difteri adalah sebuah infeksi pada tonsil atau amandel dan tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Secara umum difteri menyerang tenggorokan dan tonsil, namun dalam beberapa kasus dapat menyerang kulit. Difteri dapat menyerang manusia pada berbagai umur, namun paling sering menyerang anak yang belum mendapat vaksin difteri. Difteri secara umum terjadi pada bulan-bulan yang lebih dingin. Difteri menular melaluli kontak fisik yang dekat, dan melalui kontak respiratorik atau pernafasan.

Saat menyerang tonsil dan tenggorokan beberapa gejala yang didapatkan pada penderita difteri adalah:

  • Nyeri tenggorokan
  • Hilangnya nafsu makan
  • Demam
  • Setelah tiga hari akan timbul bercak berwarna putih kebiruan pada tenggorokan, bercak juga dapat berwarna abu-abu atau kehijauan jika ada pendarahan
  • Bengkak pada leher
  • Sesak napas dan gangguan pernapasan
  • Jantung berdebar

Jika menemukan gejala tersebut, orang tua dan masyarakat dihimbau untuk segera membawa penderita ke fasilitas kesehatan terdekat. Dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan difteri. Tidak dianjurkan untuk mengobati sendiri gejala-gejala di atas, terutama jika sedang berada di daerah yang terjadi wabah difteri. Jika memang penderita dicurigai menderita difteri setelah pemeriksaan dokter, penderita akan masuk rumah sakit dan dirawat inap. Untuk mencegah penularan, penderita akan dirawat di ruangan khusus untuk infeksi. Dokter akan segera memulai pemberian antibiotik tertentu, tanpa menunggu hasil pemeriksaan laboratorium karena komplikasi difteri sangat berbahaya jika dibiarkan tanpa terapi.

Cara paling efektif untuk mencegah difteri adalah melalui vaksinasi atau imunisasi. Imunisasi dapat mencegah difteri hingga 95%. Vaksin difteri yang lazim diberikan di Indonesia adalah DPT. DPT merupakan gabungan dari vaksin difteri, pertusis dan tetanus. munisasi difteri diberikan sebanyak lima kali pada anak-anak. Diberikan pada usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan dan terakhir 5 tahun. Kunjungi puskesmas terdekat dan jangan lewatkan jadwal imunisasi difteri pada anak. Meskipun datang terlambat atau tidak sesuai jadwal, dokter dapat menjadwalkan imunisasi susulan sesuai dengan kondisi anak.

Imunisasi difteri sangat penting perannya dalam mencegah difteri di Indonesia. Selain imunisasi, peran aktif orang tua maupun pengasuh sangat penting untuk mengenali gejala-gejala difteri dan segara membawa ke fasilitas kesehatan terdekat sangat penting. Difteri tidak perlu ditakuti, karena difteri dapat dicegah, dan difteri dapat diobati. (RPG/CM)

Sumber

DEPKES. 2017. Depkes. [online]. [Accessed 30 August 2018]. Available from World Wide Web:<http://www.depkes.go.id/article/view/17120700003/meningkatnya-kasus-difteri-3-provinsi-sepakat-lakukan-respon-cepat.html>

WHO. 2011. WHO. [online]. [Accessed 30 August 2018]. Available from World Wide Web: <http://www.who.int/immunization/topics/diphtheria/en/index1.html>


Apa saja soal Kesehatan #TanyaPakdok Lewat Aplikasi, Install Pakdok sekarang click Andoid Google Play atau IOS App Store